BUKU HIDUP (HUMAN BOOK) BERNAMA SAWITRI RETNO HADIATI
Buku hidup (human book) itu bernama Dr. dr. Sawitri Retno Hadiati, Sp.KK. Dia menjadi buku istimewa yang saya baca sebagai pemustaka (user book) pada program perpustakaan manusia (human library) yang diselenggarakan pada tanggal 2-3 Maret 2024 di Perpustakaan Lembah Hijau, Desa Ijo Balit, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
(Muhammad Riandi sedang membaca buku hidupnya, Ibu Sawitri Retno Hadiati pada program Human Library, 2 Maret 2024)
Wanita kelahiran 1965 yang biasa dipanggi Ibu Sawitri itu merupakan dokter bergelar doktor dan mantan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya (UNAIR). Dia merupakan seorang pejuang tangguh yang memilih resign dari pekerjaan tetapnya menjadi dosen (PNS), kemudian fokus mendedikasikan hidupnya untuk mengelola Yayasan Peduli Kasih ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) yang didirikannya sejak tahun 2012.
“Keputusannya itu membuat sebagian orang menganggapnya gila, tetapi sebagian lainnya menganggapnya mulia”
###
Ibu Sawitri bercerita kalau rencana kegiatan ini sebenarnya bermula dari penelitiannya saat menjalani program magister (S2) di Australia. Selain itu, keputusannya fokus pada dunia ABK semakin kokoh setelah dirinya mengikuti seminar mengenai wanita dan penyandang difabel di Universitas Galluadet, Washington DC, Amerika Serikat. Sesuatu yang membuatnya cukup terkesan, ternyata pemerintah Amerika Serikat sangat mendukung para penyandang difabel, termasuk ABK. Orang tua di sana juga sangat menerima keberadaan ABK, mereka tidak menyembunyikannya dari lingkungan sosial dan tidak menganggap ABK adalah aib keluarga yang tidak dapat diupayakan potensinya. Karena itulah banyak ABK di Amerika sukses dan menjadi orang terkenal.
Dia melibatkan ibu rumah tangga, mahasiswa, dan akademisi menjadi relawan (volunteer) untuk mengurus yayasannya. Bersama para relawannya, Ibu Sawitri telah melayani ribuan orang tua dengan ABK. Mereka berasal dari berbagai wilayah yang ada di Jawa Timur. Upaya memuliakan ABK dilakukan memalui berbagai kegiatan berbasis orang tua.
Ibu Sawitri mengatakan,
“Meskipun ABK, mereka seperti anak normal lainnya yang bergantung orang tuanya. Orang tualah yang paling lama berinteraksi dan paling tahu kondisi atau keadaan anak-anaknya. Otomatis orang tualah yang diharapakan bisa mengasihi anak dengan seoptimal mungkin. Jadi, kalau mereka Bahagia, dan cerdas, Insyaallah bisa menjadi frekuensi yang sama kepada anak-anaknya.”
Menurutnya, mindset orang tua ABK yang cenderung pesimis dan hanya memasrahkan anaknya kepada Yayasan justru menjadi penghambat bagi anaknya untuk berkembang. Karena itulah dia membuat program parenting khusus kepada para orang tua dengan ABK tentang pola asuh dan cara memuliakan anak-anak yang istimewa tersebut.
Mengapa fokusnya ke Anak Berkebutuhan Khusus? Ibu Sawitri menjawab, “Bahwasanya di negara kita yang sedang berkembang ini jumlah tenaga profesional yang terkait dengan ABK, baik itu berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, dan teknologi sangat kurang, dan kurang merata sehinga perlu adanya upaya-upaya kreatif yang berbasis masyarakat, berbasis orang tua, dan sebagainya.” Terlebih ia punya pengalaman atau praktik baik (𝒃𝒆𝒔𝒕 𝒑𝒓𝒂𝒄𝒕𝒊𝒄𝒆) dalam mengasuh putrinya yang juga ABK.
Ibu Sawitri juga mengatakan komunitas yang didirikan ini bertujuan untuk memberikan sosialisasi kepengasuhan (parenting) kepada para orang tua yang memiliki anak ABK supaya mereka bisa menerima keberadaan anaknya; Menstimulus pengembangan keterampilan para ABK sehingga mereka bisa menunjukkan kelebihan yang mereka miliki melalui sebuah karya.
Anak-anak berkebutuhan khusus sangat memerlukan perhatian yang ekstra. Namun, masih banyak orang tua yang tidak memiliki akses informasi dan tidak faham bagaimana cara menangani anak-anak ini. Oleh karena itu, melalui Yayasan yang didirikannya tersebut, Ibu Sawitri berharap para orang tua bisa menerima kondisi si anak dan mampu mengembangkan potensinya. Karena orang tua yang aktif, tanggap dan kreatif adalah kunci kemandirian anak-anak istimewa ini di masa depan.
Berkaca dari pengalamannya, ia merasakan langsung betapa besar perjuangan dalam mengasuh anak-anak yang spesial itu. Dia menganggap apa yang dilakukan melalui Yayasan Peduli Kasih ABK sebagai sebuah jihad (kebersungguhan).
###
Ibu Sawitri sosok yang supel, karena itu ia mudah sekali menjalin relasi dengan banyak orang melalui kegatan-kegiatan yang diikutinya. Dia biasanya meminta kontak WhastApp orang-orang yang memiliki praktik baik dibidangnya masing-masing, kemudian mengundangnya secara sukarelawan sebagai narasumber pada acara webinar yang rutin beliau adakan dan siarkan secara live melalui kanal Yotube Peduli Kasih ABK. Ini merupakan cara kreatif yang beliau lakukan untuk mengumpulkan donasi dari para peserta webinar.
Selain dari uluran tangan para donator, Ibu Sawitri juga menginisiasi adanya kegiatan niaga di teras kantor Yayasan. Dia menamainya “Toko Istimewa”, sebagai wadah atau tempat menjual aneka produk kerajinan karya ABK. Dia berharap toko itu dapat menunjang kemandirian Yayasan.
Ketika saya tanya,
“Bukankah Yayasan itu masih tetap bisa dijalankan tanpa harus resign jadi dosen?”
Beliau menjawab, “Pertama: supaya saya fokus dan tidak terjadi conflict of interest antara jabatan saya di kampus dan yayasan yang saya bina. Kedua: umur saya sudah 50 tahun, sisa usia saya mungkin sudah tidak lama lagi karena itu saya ingin berbuat lebih banyak—mengabdi kepada masyarakat. Kalau masalah rezeki, saya yakin bahwa Allah tak akan mungkin meninggalkan saya selama punya niat baik dan berikhtiar dengan cara yang benar.”
Masyaallah, jawaban-jawaban beliau sangat menginspirasi dan memotivasi sehingga semakin membuat berdecak kagum saat mendengarnya.
Footnote: Human Library adalah sebuah konsep yang mengandaikan manusia sebagai buku dan bisa dipinjam untuk diajak bercakap-cakap. Konsep ini pertama kali digagas di Denmark pada tahun 2000. Misalnya dengan membaca (mewawancarai ) orang-orang yang termarginalkan karena suku, bangsa, kondisi fisik, kondisi sosial, dan gender yang bertujuan untuk menepis prasangka (stereotipe) seseorang terhadap orang lain yang belum dikenal (sumber referensi:humanlibrary.org).
Perpustakaan Lembah Hijau, Sabtu, 2 Maret 2024
Penulis : Muhammad Riandi
(Kisah di atas meraih juara harapan dalam lomba menulis kisah inspiratif yang diselenggarakan oleh SIP Publisher dan Univertsitas Nahdlathul Wathan Mataram)
Posting Komentar untuk "BUKU HIDUP (HUMAN BOOK) BERNAMA SAWITRI RETNO HADIATI"