Sebuah Teguran untuk Perubahan
Saat itu, hidup saya benar-benar penuh dengan tantangan. Gaji saya hanya 250 ribu per bulan, dan itu harus saya kelola dengan sangat hati-hati untuk kebutuhan sehari-hari selama pengabdian sebagai guru, musyrif, sekaligus sekretaris bidang kesantrian. Uang tersebut saya simpan di lemari, tanpa perlindungan bank, hanya bermodal kepercayaan bahwa semuanya akan aman. Namun, pada suatu hari, saya menyadari sesuatu yang tidak beres. Saat saya menghitung kembali tabungan saya, uang saya berkurang sekitar 420 ribu. Ada lembaran 20 ribuan yang saya ingat benar keberadaannya, tapi kini lenyap. Saat itulah saya sadar, uang saya telah dicuri.
Saya tidak langsung ribut atau menceritakan kepada siapa pun. Dalam hati, saya berniat menyelidiki sendiri. Langkah pertama, saya pergi ke kantin untuk mencari tahu siapa yang akhir-akhir ini terlihat jajan secara tidak wajar. Pemilik kantin mengatakan, “Ada, Ustadz, si Fulan. Belakangan ini dia sering beli banyak jajan.” Informasi itu membuat saya bertanya lebih lanjut ke orang tua Fulan. Ketika saya menanyakan apakah mereka memberikan uang jajan tambahan kepada Fulan, jawabannya tegas, “Tidak, Ustadz.”
Lalu, saya bertanya kepada beberapa santri di kamar tempat saya bertugas. Beberapa santri menjawab dengan polos, “Iya, Ustadz. Ana ditraktir dua hari ini. Makan enak sekali, Ustadz, kenyang.” Namun, ada satu santri yang berbisik lirih, “Afwan, Ustadz, ana pernah lihat Fulan buka lemari Ustadz.” Astaghfirullah. Hati saya semakin yakin bahwa Fulan adalah pelakunya.
Tanpa membuang waktu, saya memanggil Fulan ke kamar. Saya menemukan uang 100 ribu di lemarinya dan langsung bertanya, “Uang ini milik siapa?” Dengan wajah terkejut, dia menjawab, “Itu uang teman ana, Ustadz.” Saya tidak langsung percaya. “Siapa temanmu itu?” tanyaku lagi. “Alan, Ustadz,” jawabnya. Segera saya panggil Alan dan menanyakannya langsung di depan Fulan. Alan menjawab tegas, “Bukan, Ustadz. Ana tidak punya uang sebanyak itu.”
Akhirnya, saya kembali menatap Fulan dan berkata, “Kalau begitu, ini uang siapa? Jangan membuat masalah ini menjadi lebih rumit.” Namun, Fulan tetap bersikeras, “Wallahi, Ustadz, ana tidak mencuri.” Hati saya semakin berat. Saya memegang rotan di tangan, dan dengan berat hati, saya pukulkan ke kakinya. “Ana tidak ridho, Ustadz, memukul ana seperti ini!” serunya sambil menangis. Saya menjawab dengan tegas, “Ana pun tidak ridho. Tapi, kamu bersumpah menyebut nama Allah sambil berdusta, dan kamu mencuri. Itu lebih besar dosanya.”
Fulan tidak menyerah. “Ana akan lapor ke Abi ana!” tantangnya. Saya pun dengan tenang menyerahkan ponsel saya kepadanya, “Silakan. Hubungi beliau sekarang.”
Esok harinya, ayah Fulan datang ke kantor dengan amarah yang meluap. Beliau mengancam akan membawa saya ke polisi. Saya mendengarkan semua yang beliau katakan hingga selesai. Kemudian, dengan tenang, saya meminta izin untuk bicara. “Bapak, saya tahu bapak sangat sayang pada anak bapak. Tapi, izinkan saya bertanya, apakah bapak tahu apa yang saya lakukan untuk anak bapak setiap harinya?”
Beliau terdiam, dan saya melanjutkan, “Setiap hari, saya bangun jam tiga pagi untuk membangunkan anak bapak agar qiyamullail dan sahur jika Senin Kamis. Saya ajak dia ke masjid untuk salat wajib, saya bimbing dia menghafal Al-Qur'an, saya siapkan makanannya, saya dampingi mandi dan memakai seragam. Saya ajari dia di kelas, saya temani dia bermain, saya rawat dia saat sakit, saya bantu mengerjakan PR-nya, dan saya motivasi dia saat sedang futur. Semua itu saya lakukan tanpa diminta oleh bapak. Bapak, sanggupkah melakukan semua itu untuk anak bapak setiap hari?”
Ayah Fulan terdiam lama. Lalu, dengan suara bergetar, beliau bertanya, “Tapi, apa yang dia lakukan itu sudah terbukti?” Saya menjawab tegas, “Jika bapak ingin membawa ini ke kantor polisi, saya siap dengan bukti dan saksi yang ada. Tapi, saya pukul anak bapak karena saya sayang padanya. Dia telah berdusta atas nama Allah, mencuri, dan mempermalukan bapak yang selama ini bekerja keras menafkahinya. Saya tidak ingin dia tumbuh tanpa adab dan tanggung jawab kepada Allah.”
Mendengar penjelasan itu, air mata mengalir di wajah ayah Fulan. Beliau memeluk saya erat dan berkata, “Demi Allah, saya ridho, Ustadz. Jika anak saya berbuat maksiat lagi, lakukan apa yang Ustadz anggap maslahat untuk kami.”
Fulan pun menangis tersedu-sedu di tempat. Dia meminta maaf dengan tulus dan berjanji akan berubah. Hari itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Kini, dia adalah seorang ustadz yang istiqomah, membimbing generasi muda dengan penuh dedikasi. Setiap kali bertemu saya, dia selalu memeluk saya erat dan berbisik, “Jazakumullahu khairan katsiran, Ustadz. Terima kasih atas semua yang telah Ustadz lakukan untuk saya.”
Note: Cerpen di atas diadaptasi dari kisah nyata yang diceritakan oleh Ustadz Wahab Rajasam, M.Pd. di akun facebooknya.
Posting Komentar untuk "Sebuah Teguran untuk Perubahan"